Saturday, May 05, 2007

flashback

Dalam setengah kegelapan.
Sejauh mata memandang, hanya sebuah padang rumput yang luas.
Hanya hamparan tanah yang menyatu dengan langit di kejauhan horizon bumi.
Angin tiba-tiba bertiup kencang.
Membuat ilalang menari seirama dengan rambutku.
Aku tidak sendirian rupanya.
Sepertinya ada seseorang berdiri di arah jam sebelas.
Tidak terlalu jauh.
Tidak jauh.
Dari sudut mata kiriku kulihat ia menghampiri.
Semakin dekat.
Dekat.
Kini aku melihatnya.
Seorang yang belum pernah kukenal tapi terasa sangat dekat.
Tersenyum padaku, memberikan selembar sutra panjang biru muda.
Kukuku sekilas tersentuh jari kasarnya.
Ia bicara lewat gerakan.
Sebuah rasa...
Begitu kuat.
Begitu kuat menarik sampai ke jantung.
Rasa hangat itu sangat familier.
Secepat kilat aku melempar mataku ke langit.
Terlambat.
Tiba-tiba terbutakan.
Dadaku semakin sesak.
Terlepas kembali sutra dari genggaman.
Kali ini ia melilitkannya ke bahuku.
Harum dirinya semakin menyesakkan.
Melebur dalam nafasku.
Jarinya membenarkan aturan rambutku.
Sebelum akhirnya berlalu.
Aku tersayat.